Selasa, 10 Maret 2009

Resume Materi Training K-PTKP-AN HMI Komisariat STMT Trisakti pada 7 Maret 2009

Materi : ACTION MANAGEMENT

Pemateri : Faisal ( Ketum HMI Komisariat STMA Trisakti )
Cun - Cun Jaya ( Presiden Mahasiswa STMA Trisakti )

* Pengertian Aksi Massa
Aksi massa adalah suatu metode perjuangan yang mengandalkan kekuatan massa dalam menekan pemerintah/pengusaha untuk mencabut atau memberlakukan kebijakan yang dikehendaki / tidak oleh massa.

* Latar Belakang Psiko-Sosiologis Aksi Massa
Dorongan pokok yang melahirkan aksi massa adalah keinginan akan perubahan. Manusia mempunyai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi :
- kebutuhan Biologis
- kebutuhan Sosial
- Kebutuhan Spiritual

Dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, harus ada pengaturan supaya tidak terjadi clash, penumpukan dan benturan. Peraturan / hukum mutlak dibutuhkan untuk membatasi manusia akan hak dan kewajibannya dalam bentuk pranata hingga tercipta hubungan kehidupan yang harmonis.
Akan tetapi bisa terjadi atau tidak menutup kemungkinan dalam penerapan pranata-pranata tersebut terjadi penyimpangan - penyimpangan.

* Bentuk-Bentuk Aksi Massa
Dilihat berdasarkan aktivitasnya dibedakan dalam 2 bentuk :
- Aksi Statis
merupakan aksi massa yang dilakukan pada satu titik tertentu dari awal hingga aksi berakhir
- Aksi Dinamis
Merupakan aksi yang dimulai dari titik kumpul tertentu lalu berpindah sesuai dengan sasaran aksi

Hampir tidak ada aksi yang dilakukan secara spontan, umumnya dipersiapkan dengan matang dengan tahap-tahap sbb :

I. Persiapan

Yang harus dipersiapkan adalah sbb :
1. Isu/Tuntutan
2. Prakondisi Aksi
3. Perangkat Aksi Massa
a. Koordinator Lapangan
b. Wakil koordinator Lapangan
c. Divisi Acara
d. Orator
e. Humas
f. Negosiator
g. Mobilisator
h. Kurir
i. Advokasi
j. Asisten Teritorial / Keamanan / Sweaper / Dinamisator Lapangan
k. Logistic dan Medis
l. Dokumentasi
m. Sentra Informasi
4. Kelengkapan Aksi Massa
5. Nama Komite Aksi

II. Pelaksanaan Aksi
III. Evaluasi

Puji Syukur kepada pelindung yang Maha Allah S.W.T hingga salah satu materi dalam training K-PTKP-AN ini dapat terlaksana dengan baik. Terima kasih kepada teman-teman yang ikhlas hadir dan setiap wacana yang diberikannya, semoga training dapat terus berlanjut dengan wacana dan kualitas yang lebih baik lagi.

Senin, 09 Maret 2009

GOLPUT : Aksi Proletar melawan Rezim

Ada fatwa MUI tentang menjadi Haram hukumnya jika melakukan aksi Golput pada PEMILU April 2009 nanti, dengan berdalih dalam islam kepemimpinan adalah hal mutlak yang dibutuhkan dalam prinsip bernegara. Ada juga kalangan yang menilai fatwa ini adalah pesanan elite politik tertentu yang berkepentingan. Saya tidak berkompeten untuk mendebat MUI tentang masalah ini karena jelas MUI lebih paham daripada saya yang hanya rakyat awam. Tapi karena saya rakyat awam maka menjadi hak rakyat jika saya bertanya alasan yang sebenarnya keluarnya Fatwa ini, MUI punya dalih lain yaitu menjawab pertanyaan/ kebingungan masyarakat mengenai apa hukumnya terhadap pemberian hak suara di PEMILU nanti ? sebagai ulama, maka MUI berkewajiban mengeluarkan Fatwa ini. Pertanyaan berikutnya adalah masyarakat mana yang bertanya sekaligus dijawab oleh Fatwa MUI tersebut ?

masyarakat negara kata A. Gramsci terdiri dari kelas TOP yaitu : para penguasa atau elite yang memerintah,pengusaha kelas MIDDLE yaitu : akademisi,intelektual, LSM, mahasiswa, dan kelas proletar yaitu rakyat jelata.

Kelas TOP & MIddle tentu paham bahwa memberikan suara pada PEMILU adalah wajib karena mereka golongan terpelajar dan punya kesadaran bernegara. Berarti golongan proletar yang bertanya tentang hukum memberikan suara dalam PEMILU.

Golongan Proletar biasanya berpikir pendek hanya untuk saat ini saja karena mereka pada umumnya adalah rakya jelata yang "minim" dalam ekonomi dan "minim" juga dalam intelektualitas, tapi apakah benar demikian mengingat golongan proletar yang "hanya" berpikir praktis dan cenderung tidak peduli terhadap pemerintahan apalagi hukum tentang PEMILU ? Mereka akan berpikir untuk memilih pemimpin yang bisa buat mereka sejahtera, anak2 mereka bisa sekolah dengan semestinya, hidup layak, mendapat perlakuan semestinya sebagai warga negara yang sama. JIka tidak, mereka tidak akan memilih. Dengan demikian GOlPUT menjadi alat perlawanan yang efektif terhadap rezim penindas, terhadap janji manis caleg-caleg, terhadap sandiwara politik yang cuma menjual hak-hak mereka sendiri, jika kecewa dengan calon pemimpin, tidak akan memilih adalah satu-satunya pilihan terbaik karena mereka tidak punya akses untuk berdiaolg tentang politik atau kekuasaan di depan publik, proletar hanya punya potensi untuk dijual haknya demi kepentingan kampanye politik, apalagi jumlah partai yang banyak dengan caleg-calegnya yang juga bertaburan banyaknya membuat mereka tambah bingung untuk memilih. kelas MIDDLE saja tidak begitu mengikuti perkembangan dan kompetensi caleg-caleg apalagi proletar ?

Bagi Kelas MIDDLE; golongan ini lebih kritis terhadap pemerintahan dan PEMILU. Karenanya mereka bisa berpikir untuk membuat pilihan berdasarkan kadar intelektualitasnya masing-masing. Ada golongan yang terkooptasi oleh kepentingan elite dari kelas TOP yang disebut Hegemoni oleh A. Gramsci sehingga memilih untuk memberikan suaranya dalam PEMILU berdasarkan kepentingan tersebut, ada juga golongan yang secara sadar berpartisipasi dalam PEMILU karena kesadaran bernegaranya, ada juga golongan yang kritis terhadap pemerintah yang menipu rakyat mencoba berdialog yang tidak berguna, melakukan aksi nyata tapi di tuding ada kepentingan dibaliknya, sehingga mereka juga melakukan aksi GOLPUT sebagai bentuk perlawanan yang terakhir. GOLPUT adalah partisipasi PEMILU juga bagi golongan ini.

Jika pemerintah, elite politik yang berkepentingan, atau bahkan juga MUI ingin mengurangi GOLPUT maka yang harus dilakukan adalah koreksi diri, harus diciptakan standarisasi caleg-caleg berkualitas, hentikan penipuan cerdas terhadap rakyat hingga rakyat tidak hanya jadi komoditi kampanye, pemerintah yang berkuasa jika ingin berkuasa lagi hendaknya menciptakan pemerintahan bersih yang berpihak kepada rakyat, hingga dengan sendirinya rakyat dengan kedewasaannya akan bersedia berpartisipasi dalam PEMILU. Jika Pemimpin multlak diperlukan dalam bernegara, seharusnya MUI mengeluarkan Fatwa tentang standarisasi pemimpin yang baik itu, bukankah itu adalah pertanyaan masyarakat juga, Kenapa juga MUI tidak berfatwa haram hukumnya bagi caleg tidak berkualitas dipilih atau haram hukumnya jika caleg terpilih atau pemimpin terpilih tidak merealisasikan janjinya pada saat kampanye ? GOLPUT adalah buah dari pohon politik yang tumbuh selama ini , dia ada karena melawan rezim, dan rezim yang buruk selalu ada perlawanan. JIka pohon sistem dan kecerdasan politik, pemerintahan tumbuh dengan baik maka buahnya merupakan kehidupan harmonisasi politik yang dewasa dan bijaksana.

Maka caleg-caleg / pemimpin berlombalah menjadi cerdas dan berkualitas untuk dipilih, jika tidak ya tidak akan dipilih. Jangan membuat rakyat masuk neraka karena tidak memilih caleg-caleg / pemimpin tidak berkualitas karena Fatwa MUI.

BY : Agustian Hutriady

Basic Training ( LK 1 ) HMI Komisariat Trisakti

SIAPKAN DIRIMU UNTUK MENGIKUTI BASIC TARINING (LK-1)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM KOMISARIAT TRISAKTI
06-10 MEI 2009..

"BERANILAH UNTUK BERUBAH"
YAKIN USAHA SAMPAI

RESUME HASIL DISKUSI TENTATIVE “ INDONESIA DI TENGAH KRISIS EKONOMI DUNIA” DI HMI KOMISARIAT TRISAKTI PADA 11 JANUARI 2009 JAM 16.00 WIB

Sebenarnya pokok pembahasan dalam diskusi ini adalah wacana solusi bagaimana mempersiapkan diri kita di tengah kondisi Indonesia yang terimbas oleh krisis ekonomi dunia. Krisis global yang bermula dari defisitnya dana bank sentral Amerika Serikat akibat kredit macet terutama pada sector kredit perumahan Amerika Serikat yang ikut didanai oleh bank-bank Eropa (hal ini mengindikasikan terjadinya praktek kapitalisme yang berlebihan / over capitalism ) selain terlalu banyak dana yang dikeluarkan karena perak Irak. Selanjutnya, karena Amerika Serikat adalah “kiblat” perekonomian dunia
( karena hampir semua kegiatan perdagangan Internasional ditujukan kepada Amerika Serikat ) maka, secara otomatis perekonomian internasional termasuk Indonesia terkena dampak atas krisis yang sebenarnya hanya bersifat “domestik’ di Amerika Serikat.

Pemerintah Indonesia melalui Memperindag menyatakan Indonesia tidak akan terkena dampak besar dari krisis global, karena sudah melakukan diservikasi exspor dan tetap optimis perekonomian Indonesia akan tetap exist. Diskusi ini menyimpulkan hal itu adalah sekedar kamulfase atau Cuma menutupi masalah besar yang sebenarnya terjadi, untuk membuat masyarakat dan kalangan bisnis tidak panic guna menciptakan kestabilan / ketenangan ekonomi, dan pemerintah sudah sukses melakukan ini. Bukankah untuk melakukan diservikasi atau melakukan ekspor terhadap pasar baru harus dimulai dengan proses baru ? jika perekonomian Indonesia masih bisa exist mengapa justru indikasinya berlawanan ? misalnya banyak pabrik yang tutup dan PHK terus berlangsung sampai sekarang,

Yang harus dilakukan dalam kondisi ini adalah menyiapkan kualitas diri supaya bisa bersaing dalam dunia kerja ( agar tidak terkena PHK ) atau menerapkan entrepreneur dalam bidang usaha yang bisa bertahan atau tidak terkena dampak krisis global. Hal inilah tantangan bagi pemuda atau mahasiswa Indonesia terutama mahasiswa tingkat akhir yang akan memasuki dunia kerja.

PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH S.W.T SEHINGGA DISKUSI INI BISA TERLAKSANA, TERIMA KASIH KEPADA TEMAN-TEMAN YANG IKHLAS HADIR . HASIL DISKUSI INI TERBUKA UNTUK MASUKAN DAN KRITIKAN YANG MEMBANGUN. SEMOGA DISKUSI INI TETAP BERLANJUT DENGAN WACANA LAINNYA.

Relevansi Prinsip-prinsip Penalaran (Prima Principia) Terhadap Konsep Ketuhanan

Prima Principia merupakan konsep dari logika

Logika merupakan cabang filsafat yang bersifat praktis berpangkal pada penalaran, dan sekaligus juga sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Dengan fungsi sebagai dasar filsafat dan sarana ilmu karena logika merupakan “jembatan penghubung” antara filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika didefinisikan: Teori tentang penyimpulan yang sah. Penyimpulan pada dasarnya bertitik tolak dari suatu pangkal-pikir tertentu, yang kemudian ditarik suatu kesimpulan. Penyimpulan yang sah, artinya sesuai dengan pertimbangan akal dan runtut sehingga dapat dilacak kembali yang sekaligus juga benar. Dalam logika selanjutnya dikenal dengan yang dimaksud prinsip-prinsip penalaran atau prima principia ( prinsip utama dalam Logika ).

Prinsip-prinsip Penalaran

Prinsip-prinsip penalaran atau aksioma penalaran merupakan dasar semua penalaran yang terdiri atas tiga prinsip yang kemudian di tambah satu sebagai pelengkap. Aksioma atau prinsip dasar dapat didefinisikan: suatu pernyataan mengandung kebenaran universal yang kebenarannya itu sudah terbukti dengan sendirinya. Prinsip-prinsip penalaran yang dimaksudkan adalah: prinsip identitas, prinsip nonkontradiksi, dan prinsip eksklusi tertii, dan sebagai tambahan pelengkap prinsip identitas adalah prinsip cukup alasan ( causalitas)
Prinsip identitas menyatakan: “sesuatu hal adalah sama dengan halnya sendiri”. Sesuatu yang disebut p maka sama dengan p yang dinyatakan itu sendiri bukan yang lain. Dalam suatu penalaran jika sesuatu hal diartikan sesuatu p tertentu maka selama penalaran itu masih berlangsung tidak boleh diartikan selain p, harus tetap sama dengan arti yang diberikan semula atau konsisten. Prinsip identitas menuntut sifat yang konsisten dalam suatu penalaran jika suatu himpunan beranggotakan sesuatu maka sampai kapan pun tetap himpunan tersebut beranggotakan sesuatu tersebut.
Prinsip nonkontradiksi menyatakan: “sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”, Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting, yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut, tidak dapat menjadi anggota 2 himpunan yang berlawanan penuh. Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas, yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya.
Prinsip eksklusi tertii menyatakan bahwa “sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”. Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda, mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara 2 himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya, tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi, yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya, dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima.
Prinsip cukup alasan menyatakan: “suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup, tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah, tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu.

Relevansi Prima Principia Dalam Penalaran Konsep Ketuhanan

Manusia adalah mahluk percaya, oleh karena itulah manusia kemudian bisa berpikir. Percaya bahwa kita eksis di dunia, percaya kita butuh makanan dan meyakini makanan yang kita konsumsi adalah baik untuk tubuh kita. Sistem kepercayaan manusia kemudian menuju keyakinan terhadap yang dipercaya, termasuk keyakinan manusia terhadap Sang Maha yang lazim disebut Tuhan.
Selanjutnya bagaimana kita bisa meyakini bahwa yang kita percayai itu adalah sebuah kebenaran ? Manusia dengan memaksimalkan akal budinya tentu bisa menganalisa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tapi, manusia adalah mahluk terbatas, oleh karena itu manusia adalah mahluk yang ketergantungan ( manusia adalah mahluk sosial ), terbatas oleh ruang dan waktu yang berimpilkasi terhadap kesimpulan kepercayaan kita tentang kehidupan yang tidak kekal ( untuk masalah keterbatasan dan keabadian ruang dan waktu bisa di perdalami dengan mempelajari pemikiran Ibn Rusdy ).
Oleh karena manusia itu terbatas, tergantung dan tidak abadi maka, manusia membutuhkan ketergantungan terhadap Yang tidak terbatas , Tidak tergantung dan Yang abadi. Sebab saling ketergantungan terhadap yang terbatas membuat hidup hampa makna terutama jika dikaitkan dengan pertanyaan darimana kehidupan berasal ? atau apa tujuan hidup ? berarti tujuan hidup kita adalah untuk saling tergantung terhadap yang terbatas, tetapi tidak menjawab darimana kehidupan berasal, kecuali harus ada identitas yang berbeda dari sifat manusia yang menjadi awal kehidupan. Karena identitas ini harus ada ( wajib ada ) dan berbeda dari manusia, merupakan konsekuensi logis identitas ini haruslah Yang tidak terbatas, Tidak tergantung dan mesti Abadi. Identitas inilah yang disebut dengan Tuhan. Konsep ini sejalan dengan penalaran prima principia pada prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi.
Karena Tuhan ( pencipta ) itu sesuatu keniscayaan yang mesti ada dan sifatnya mestilah harus berbeda dari manusia atau mahluk lainnya ( ciptaan ) yang Tidak terbatas, Tidak tergantung dan Kekal berarti Tuhan itu pastinya lebih kuasa dari manusia atau mahluk lainnya yang terbatas, tergantung dan tidak kekal. Oleh karena itulah Tuhan disebut dengan Maha. Jika Tuhan itu berbeda identitas dengan mahluknya bahkan berkuasa atas mahluknya tersebut adalah sangat mustahilah jika Tuhan itu berpredikat sebagai Pencipta sekaligus ciptaan, karena pastilah berlawanan dengan prinsip eklusi tertii.
Jika ada kepastian tentang suatu yang Maha yang lebih berkuasa dari kita sebagai manusia, berarti sebuah kemutlakan untuk tunduk dan pasrah terhadap keMahaan Nya. Sesuatu yang Maha ini yang berati bisa melakukan segalanya, sehingga selaras dengan prinsip identitas tidak akan ada yang sama dengan diriNYa. Adalah analisa logis jika alam semesta yang terbatas berasal dari awal yang tidak terbatas yang dapat melakukan apa saja, yang Maha perkasa. Sebab sesuatu yang terbatas tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu yang diluar keterbatasannya, contohnya kita manusia tidak akan pernah bisa menciptakan nyawa sesorang karena kita terbatas, dan perbuatan tersebut di luar keterbatasan atau kemampuan kita. Disini berlakulah prinsip Causalitas yang berarti akibat tergantung mutlak terhadap sebab. Dengan demikian, kita manusia dan alam semesta adalah akibat dari sebuah pencipta yang tanpa sebab ( Prima Causa ), karena jika Tuhan disebabkan lagi oleh sesuatu yang Lebih Maha dari Dirinya berati Tuhan berstatus sama dengan mahluk ciptaannya yang terbatas dan tergantung.
Maka Tuhan sang Penguasa berkuasa atas ciptaanya dengan telah menetapkan segala sesuatunya sehingga tercukupi sebab atas terjadinya sesuatu berdasarkan ukuran-ukuran. Sesuatu yang alamiah jika ciptaan Tuhan mengabdi kepadaNya karena ciptaan tergantung kepada Pencipta. Pencipta yang sempurna pastilah menciptakan ciptaan yang sempurna sejalan dengan prinsip causalitas tetapi tentu saja kesempurnaan Tuhan sebagai pencipta berbeda dengan Kesempurnaan ciptaan sejalan dengan prinsip identitas, oleh karena itu tidak akan pernah Pencipta atau Ciptaan mempunyai dua identitas sekaligus ( sebagai Pencipta dan juga sebagai ciptaan ). Sehingga dapat disimpulkan bahwa agama / kepercayaan monotheis adalah analisa yang logis.
Oleh karena itu Tuhan menganugrahi akal kepada manusia yang menjadi Khalifah atau citra Tuhan di bumi sekaligus sebagai penanda/pembeda dengan mahluk Tuhan lainnya menjadikan sebagai alat analisa untuk mengenalNya, sehingga menalar Tuhan adalah suatu usaha yang wajib dilakukan oleh manusia yang berpikir. Jika akal adalah alat analisa untuk mengenal Tuhan, lalu bagaimana Tuhan yang Tidak terbatas menyampaikan pesan-pesan IlahiNya kepada Manusia yang terbatas. Pastinya Manusia yang terbatas tidak akan sanggup menerima pesan-pesan Ilahi dari Yang Tak Terbatas. Maka, disini lah peran pembawa wahyu Tuhan atau lazim disebut nabi. Tuhan membutuhkan manusia yang paripurna sebagai pembawa pesan Ilahi untuk disampaikan kepada manusia-manusia lainnya.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/logika
Mundiri, Pengantar Logika, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001
Teks Nilai Dasar Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI )
Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan, Kanisius, Jakarta 2001

BY : Agustian Hutriady

Minggu, 09 Maret 2008

Info LK1

Info&Undangan kirim calon kader Basic Training HMI komisariat Trisakti.

Tgl 19-23 Maret 2008 di Wisma Pemuda, Sawangan, Depok.
Infaq Rp. 25rb.

Materi:
-Lingua Franca
-Sejarah Perjuangan HMI
-Mission HMI
-Konstitusi HMI
-KMO
-NDP 8 BAB
-Esensi Ajaran Islam+Muhasabah
-Entrepreneurship
-Nonton Film


Selasa, 29 Januari 2008

Komisariat Tercinta

Komisariat Tercinta